Sabtu, 25 Februari 2012

Sejarah Pendiri


Salam / greeting,
Pendiri perguruan GUNTUR GENI yaitu mas Raden Tumenggung Sastrowidagdo Atmojo Yoga, merupakan keturunan dari pengikut Pangeran Diponegoro, yaitu Raden Mas Suryawinoto (berlanjut sampai RM. SOEDARTO, yaitu ayah dari mas Dian), dan sampai sekarang trah atau keturunan dari RM. Suryawinoto, masih ada, karena RT Sastrowidagdo adalah sekretarisnya, sampai sekarang.

The founder of GUNTUR GENI self defence is mas Raden Tumenggung Sastrowidagdo Atmojo Yoga, he is a young generation from the Hero of Prince Diponegoro's (1830) follower, namely Raden Mas Suryawinoto (then till R.M Soedarto, who is the father of mas Sastro), and till up to now the young generation of R.M Suryowinoto still exist, and RT Sastrowidagdo as the secretary of this big family.


RT Sastrowidagdo atau yang biasa dipanggil dengan mas Dian atau mas Hari (lahir 1964), sejak kecil, ketika masih kelas 4 SD (1974) sudah belajar silat dari pamannya sendiri, yaitu mas Daryono dari daerah Japanan, yang merupakan pelatih dari aliran silat Jawa, kemudian di kelas 1 SMP (1977) masuk pergutuan Kungfu dengan nama BANGAU PUTIH di daerah Gading, yang dilatih oleh Koh Jun atau nama Jawanya adalah bapak Maryadi, dan sampai sekarang masih hidup. Belum puas juga lalu masuk perguruan campuran Silat dan Karate, yaitu INSEBA di daerah Sumber. Ketika kelas 2 SMP ada perpanjangan setengah tahun (1979), maka masuk perguruan PERISAI DIRI di daerah Sriwedari, yang dilatih oleh mas Bejo Utomo. Sembari terus memperdalam ilmu beladiri, RT Sastrowidagdo, sering berdiskusi dengan para pendekar/pelatih dari perguruan/aliran lain. Juga masuk lagi ke aliran Shantung di daerah Badran.

RT Sastrowidagdo or is called mas Dian or mas Hari (born 1964), when he was child, started in 4th basic school (1974), had trained by his uncle, namely mas Daryono from Japanan, and learned about Javanese still of self defence, then when he was in first class in junior high school (1977) he entered kungfu academy, namely BANGAU PUTIH or White Swan in region of Gading, and the trainer was Koh Jun or Maryadi. Then also learned in organization of INSEBA self defence in Sumber village.In 1979 registered to PERISAI DIRI in Sriwedari Stadium, and the trainer was mas Bejo Utomo. Also mas Sastro often discuss with many experts of different self defence. Then also visited Shantung style in Badran.

Selain itu juga memperdalam sendiri ilmu yang sekiranya sesuai dengan dirinya sendiri, seperti TAICHI, CAPOEIRA, JIUJITSU, dll. Juga mempelajari pernafasan di Majlis Dzikir, DZIKRON KATSIRON di daerah MOJOSONGO. Dan jangan dilupakan, ternyata dari pihak ibu, berasal dari daerah Minang tepatnya di lereng gunung Marapi, Bukittinggi, dari keturunan suku SI KUMBANG, sehingga tak heran, juga sangat menyenangi beladiri aliran MINANG.

Beside that, learned by himself for example, CAPOEIRA, JIUJITSU, ETC. Also study about breathing at Majlis Dzikir (islamic religion study) at Dzikron Katsiron in Mojosongo. Also he has a Minang blood from his mother, who came from the hill of Marapi monunt in Bukittinggi, Sumatra island, and her tribe is SI KUMBANG, so mas Sastro also learned about MINANG style of self defence.

Dari film, buku, dll, pengetahuan tentang SHAOLIN, menambah khazanah ilmu beladirinya, sehingga kemudian atas desakan teman-temannya yang dilatihnya juga, maka didirikanlah perguruan GUNTUR GENI, setelah diadakan pertemuan di tempatnya sdri Sita (Januari 2012, hari senin, pas IMLEK), di daerah Pajang ke barat, yang kala itu bersepakat 7 orang untuk bersama mempelajari sekaligus mendirikan dan mengembangkan perguruan baru, yaitu RT Sastrowidagdo Atmojo Yoga, Satmo Harjono, Maaruf, Kusdirgo, Agus Budi, Sutrisno, dan Sita, beberapa hari kemudian tambah lagi mas Hari Wiryawan, Tommy OW, Hayu Muriandari.

By films, books, stories about Shaolin, etc, so add the quality and quantity of self defence, and finally by ordering his friends and also his followers, then stand  new style of self defence, namely GUNTUR GENI, after meeting in Sita's house (january 2012, monday, fitted with IMLEK), in Pajang region, and 7 persons agree to stand and study also develop a new style of self defence, there were RT Sastro, Satmo Harjono, Maaruf, Kusdirgo, Agus Bbudi, Sutrisno, and Sita, then add mas hari Wiryawan, Tommy , and Hayu.  

Tempat latihan diawali di Taman Cerdas, MALABAR , MOJOSONGO, kota Surakarta. Setiap hari Minggu, Rabu, dan Sabtu. Pengikut generasi awal adalah Hanifa, Kholid, Jetri, Thalia, Ade, Rahadi, Arif, Ilham, Muh Candra, Arlinda, Salsabila, Abror, Yunus, Alvian dan beberapa yang belum disebut namanya (akan disusulkan).

The first place for training is in Taman Cerdas, Malabar, Mojosong, Solo town, every wednesday afternoon, and sunday & saturday morning. The first young followers are hanifa, Kholid, Jetri, Thalia, Ade, Rahadi, Arif, Ilham, Muh Candra, Arlinda, Salsabila, Abror, Yunus, Alvian, and etc

Tulisan berikutnya akan dipaparkan tentang tingkat dan materi latihan secara lebih lengkap.
The next explanation is about rank and kind of training in detail

Terima kasih atas perhatiannya.
Thank you for attention.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar